Christmas Diary

Halo, author di sini. Hmm, ngomong-ngomong aku tidak pernah menceritakan kehidupan pribadiku di tumblrku ini kecuali mengenai Greyson Chance beberapa waktu lalu.

Baiklah, sekarang aku akan bercerita mengenai Natalku di tahun 2011. Mungkin kau berpikir bahasaku ini terlalu baku, tapi aku memang sengaja menulis posting ini dengan bahasa baku. Yaah, tidak ada salahnya kan?

Eh tunggu, apa ada yang menanyakan judulnya? Kenapa aku memberi judul seperti itu? karena aku akan meulis dengan format seperti buku harian. Ini dia.

*maaf ga pake foto, karena koneksi internetnya lemot*

Sabtu, 24 Desember 2011

Hari ini—tepatnya pukul 1.27—aku tiba di rumah nenekku di Magelang. Aku dan keluargaku mulai menuju Magelang pada hari Jum’at tanggal 23 di jam 2 kurang. Yaah, karena ada sedikit kemacetan yang menghambat perjalanan kami, di mana mobil kami tidak bergerak satu senti pun—oke, aku tahu ini berlebihan, tapi aku tidak tahu pasti mobilku berdiam diri berapa lama karena aku tidur—perjalanan yang seharusnya hanya 10 jam menjadi 12 jam.

Sesampai di rumah nenekku, kami disambut oleh nenek-kakek dan juga beberapa anjing lucu. Nenekku memelihara banyak anjing. Ada Pithul, Mocca, Mishell, Noar. Mishell baru saja memiliki anak, 2 ekor anak anjing Pomeranian yang matanya belum terbuka. Lucu sekali!

Aku melihat ke kamar yang biasanya kugunakan untuk tempat berkumpul. Di sana ada dua orang sepupuku tertidur. Mereka adalah Orbi—yang berulang tahun hari itu, dan dtang dari Bekasi—dan Iyong itu bukan nama aslinya, hanya panggilannya. Iyong lahir di hari pertama di tahun 2000. Iyong memang tinggal di Magelang dan rumah nenekku bisa ditempuh dalam 10 menit.

Karena tidak mengantuk, aku meminjam komik Kungfu Boy milik kakakku, dan baru tertidur sekitar pukul steengah 4 pagi. Aku bangun sekitar jam 8. Untuk menghabiskan waktu, aku melakukan banyak hal. Aku memutuskan ikut adikku dan Iyong ke rumahnya naik sepeda. Aku sendiri diantar oleh Indri, seorang yang kerja di rumah nenekku. Di rumah Iyong, aku makan soto buatan ibunya Iyong, karena aku bingung—apa yang harus kumakan di rumah Nenekku.

Setelah makan, aku membaca komik Crayon Shinchan di tempat tidur sementara Nara dan Iyong bermain. Aku tidur dan terjaga ketika mendengar dering adanya pesan baru di hapeku. Rupanya, kami diminta pulang karena akan makan bersama di Tiptop. Nenekku punya voucher makan di sana, dan ini seklaigus untuk ‘sedikit’ merayakan ultah Orbi.

Siang menjelang sore, sepupuku yang lain bermunculan. Ada Tiara dan Cathy yang masih TK-SD bersama ibu mereka: Tante W—sebut saja begitu—dan suster mereka. Mereka datang dari Yogyakarta.

Malamnya, kami bersama-sama pergi ke Gereja St. Mikael Pancaarga. Aku, kedua saudaraku, Orbi dan Iyong memilih untuk duduk di atas. Dari sana, aku dapat melihat orangtua Iyong dan kakaknya: Mas Resza. Kami juga sempat melihat nenek dan kakekku, juga Tiara dan Cathy. Khotbahnya cukup lama juga, tapi akhirnya misa selesai. Oran-orang saling mengucapkan selamat Natal.

Minggu, 25 Desember 2011

Hari ini, datang sepupuku yang lain. Mereka adalah Abi dan Iel yang masih TK-SD juga. Mereka datang bersama Om B dan Tante Y dari Pekanbaru.

Hari ini kita juga menghias kue Natal ala kits sendiri. Cupcake dan hiasannya telah tersedia, krimnya Tara sama Tante Y yang membuat. Seru sekali saat menghias kuenya. Lalu, ultah Orbi juga dirayakan dengan tumpengan.

—Karena bosan, aku meminjam PSP yang dibawa Orbi. Di memory cardnya hanya tersimpan 2 game: Tekken 6 dan?? Aku lupa—atau mungkin hanya ada satu game saja, aku tidak ingat. Yaah, tidak ada pilihan lain selain memainkan Tekken 6. Aku lupa memilih mode apa—yang jelas free—tapi aku memilih Christie sebagai characterku. Aku terus memainkan level-level berikutnya dan sempat kalah. Aku mengganti playerku menjadi Devil Jin, lalu menjadi Raven. Dengan Raven, aku mencapai stage untuk bertarung melawan Azazel. Tapi itu benar-benar sulit. Aku sempat menggunakan Heihachi dan nyawa Azazel hanya tinggal seperdelapan lagi, tapi aku tetap saja kalah.

Akhirnya aku berhenti bermain, dan meminjam novel milik Tante Y: St. Clare nomor pertama, cetakan lama. Karena ceritanya bertele-tele, aku membutuhkan waktu lebih untuk menyelesaikannya. Ngomong-ngomong, atas permintaan Tiara—dan memang keinginanku bermain—aku memainkan terus Ada’s Pizzeria di iPadnya. Tapi yang menamatkan di level 50 sih Tara, karena aku sudah bosan memainkannya: 40 level dalam sehari.


Senin, 26 Desember 2011

Sepupuku yang lain datang hari ini. dia adalah Ayu dan Nerel, bersama orangtua mereka: Pakde R dan Bude W. Orbi adalah anak tengah dari keluarga ini, hanya saja dia berangkat ke Magelang lebih dulu. Sekitar jam setengah 1, kami beramai-rama pergi ke Jogja menggunakan tiga mobil. Aku ikut mobil Pakde R bersama Ayu, Abi, Iel, Nerel, Nara, Bude W, dan Orbi. Sementara di mobil ayahku ada Tara, Iyong, Tante Y dan Om B, juga ibuku. Mobil ketiga tentu saja Tante W,anak-anak, dan susternya.

Memang kami sama-sama menuju Jogja, tapi Tante W hendak pulang ke rumahnya. Sementara dua mobil lainnya pergi ke Rewulu untuk mengunjungi makam buyut (nyekar). Wah, buyutku mengalami penjajahan, karena kulihat beliau lahir di tahun 1918!

Setelah ‘nyekar’ di dua tempat, kami menuju Pizza Hut. Tapi mobil Pakde R yang kunaiki toba sekitar dua puluh menit lebihi cepat daripada mobil ayahku, karena Tante Y harus mengambil hape dan memakan waktu yang lama. Aku dan yang lain—yang tiba lebih dulu—segera memesan, tapi pesanan baru saja selesai dicatat ketika mobil ayahku tiba. Yaah, kami memang cukup lama menentukan pilihan menu hihihi..

Makan di PH juga merupakan rangkaian ulangtahun Orbi. Setelah kenyang, sekitar jam 4, kami meninggalkan PH dan menuju Toga Mas Yogyakarta. Katanya, setiap anak boleh membeli 3 buku. Aku memilih Vanilla Frosting 1—sebuah komik Korea, lalu Spook’s Apprentice dan Avalon 1: Lingkaran Lingkaran Air.

Puas berbelanja buku yang menghabiskan setengah dari 10x100rb, kami menyempatkan diri mampir ke rumah Tante W di Casagrande. Rumahnya amat mewah, seperti istana. Di sana juga ada kolam renang. Sayang, sering mati lampu. Aku hanya sebentar di sana, sekitar 45 menit—atau pas satu jam—  mungkin? Akhirnya sekitar pukul 6, kami meninggalkan rumah Tante W dan kembali ke Magelang.

 

Selasa, 27 Desember 2011

Aku lupa apa yang kulakukan. Yang jelas, aku sempat pergi ke Artos, sebuah mall yang baru saja selesai dibangun—tapi belum sepenuhnya—yang bisa ditempuh hanya 5 menit dari rumah nenekku. Malamnya, kami memutuskan untuk futsal, bersama para bapak-bapak tentunya hehehe—oke di bagian ini penggunaankata baku berkurang. Tetapi, lapangan yang kami datangi sudah penuh bookingan-nya. Kami mendatangi tempat lain dan bertemu Tante Y yang memang sedang berkumpul dengan teman lamanya.

Setelah itu, kami mendatangi tempat futsal yang lain dan menemukan ada waktu kosong selama 30 menit, karena seorang pembooking akan terlambat datangnya. Kami pun memanfaatkan waktu tersebut. Aku sempat menjadi kiper dan kebobolan 2x._.

Sekitar jam 7, kami kembali ke rumah, dan katanya ada yang mencari anjing hilang: 2 ekor Siberian Husky! Bayangkan, anjing sebaus itu hilang. Aku, Nara, Iyong, Orbi dan Nerel pun mencarinya. Aku naik sepeda bersamaIyong ke gang-gang sempit. Gelap dan sepi sekali. Kami hanya sebentar mencari dan kembali ke rumah, ternyata tidak ketemu juga. belakangan, kami mendapat kabar bahwa akhirnya anjing-anjing itu ditemukan.


Rabu, 28 Desember 2011

Pagi ini, semua dari kami berenang di hotel Trio yang jaraknya sama dekatnya dengan Artos. Kami berenang selama 2 jam di sana, setelah itu kami makan di rumah Iyong. Waah, semuanya kelaparan karena tenaga terkuras sehabis renang. Bude R sampe harus membuatkan porsi baru dari mie yang dibuatnya. Tiba di rumah nenek, semua terlelap kelelahan. Aku sendiri membaca buku—oke, selama di Magelang, sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk membaca buku. 


Kamis, 29 Desember 2011

Sorenya, kami diajak Tante Y dan Om B main di Timezone. Kakakku beruntung kali ini. ia mendapat boneka babi dari permainan capit boneka, sedangkan aku hanya mendapat 147 tiket. Masing-masing anak diberi kartu powercard baru dengan isi 30.000 oleh Tante Y. dan aku menambah Rp20.000 dari uangku sendiri untuk mendapatkan tiket. Yaah, sekali-kali boros untuk bermain Timezone mungkin tidak apa-apa. Kami bersenang-senang di sana sekitar 2,5 jam! Aku menukarkan tiketku dengan kipas dan alat tulis.

Malamnya, bukannya tidur, aku, Nara, Orbi dan Ayu berbincang-bincang mengenai sekolah. Waah senang sekali punya teman bicara yang satu pikiran. Kami dibuat sakit perut karena tertawa terus mendengar Iyong bercerita.

Jum’at, 30 Desember 2011

Aku dan kakakku ikut orangtuaku untuk membeli oleh-oleh untuk teman-temanku. Waah, di sana beragam sekali makanannya. Aku sampai bingung hendak membeli yang mana. Akhirnya kuputuskan untuk membeli tales rasa Lombok ijo. Aku berkali-kali memesan dan membatalkan pesananku, aku bingung makanan apa yang hendak kujadikan oleh-oleh, karena aku sendiri menginginkan makanan tersebut.

Hari ini, Tante W datang lagi. Dan malam hari ini juga, Ayu, Orbi, Nerel pulang kembali ke Bekasi. Sayangnya, PSP Orbi hilang. Sekitar 15 menit setelah kepulangan mereka, Iyong menemuka PSP Orbi di bawah kasur kamar tempat berkumpul. Tapi mau bagaimana lagi, Orbi sudah pergi. Jadi PSP akan dibawa Tante Y, karena tanggal 5 nanti Tante Y akan mampir ke Bekasi.

Sebelum tidur malam ini, aku membaca sebuah buku karya Enid Blyton berjudul Anak-anak Liar, dan aku menamatkannya sebelum tertidur.

Sabtu, 31 Desember 2011

Oh ini hari terakhir di tahun 2011, sekaligus saatnya aku meninggalkan Magelang. Jam 6, aku memulai perjalananku pulang ke Bandung. Dan lagi-lagi perjalanan memakan waktu 12 jam—aku tiba di rumah sekitar jam 5. :)


  1. krystaleire posted this